Monday, June 8, 2009

UNIVERSIDADE NACIONAL TIMOR LORO SA'E (UNTL) ESTAGIO E SERVICO SOCIAL (ESS) PERIODO VI 2009 GRUPO I SUCO MA'ABAT




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Estágio E Serviço Social (ESS), adalah salah satu program Universitas untuk Mahasiswa program Strata Satu (S-1) ditingkat akhir yang bersifat kurikuler yang dilakukan diluar kampus. Kegiatan ini dari ESS meliputi Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada masyarakat, sebagaimana yang termuat dalam peraturan Akademik Universitas Nasional Timor Lorosa’e yang berkaitan dengan Tridarma Perguruan Tinggi. Selain itu Estágio e Serviço Social (ESS) sebagai salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiswa program S-1 di Universitas Nasional Timor Lorosa’e dengan bobot nilai (3) tiga SKS berdasarkan peraturan akademik tahun 2001, pasal 18 ayat 3 dengan tujuan dapat meningkatkan kreaktivitas dan profesionalisme mahasiswa/i yang terampil dan peka dalam menghadapi tuntutan nyata dari masyarakat yang sedang membangun, dalam arti mahasiswa/i langsung menemukan, menganalisa, merumuskan, dan merencanakan serta melakukan pengamatan terhadap semua permasalahan yang dialami oleh masyarakat secara pragmatis dan interdispliner.
Dengan demikian, Estágio e Serviço Social (ESS) merupakan bentuk pengintegrasian kegiatan antara pengabdian masyarakat dengan pendidikan dan penilitian yang bersifat intrakurikuler, yang merupakan suatu rangkaian kegiatan terpadu dari bentuk Tridarma Perguruan Tinggi.
Kegiatan Estágio e Serviço Social (ESS) adalah kegiatan yang baik bagi mahasiswa/i untuk terexpose secara kritis dan analitis terhadap suatu konteks kehidupan yang nyata dari masyarakat, dan merupakan suatu kesempatan emas bagi mahasiswa/i guna memperoleh pengalaman, belajar mandiri, melalui keterlibatan dalam masyarakat. Metode yang dipakai dalam melaksanakan kegiatan ini adalah participatoris, dimana mahasiswa/i yang mengikuti program ini dapat langsung bergabung dengan masyarakat di desa selama kurung waktu dua (2) bulan.
Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang terjadi dilapangan, serta mencari jalan pemecahannya, jika itu dapat diselesaikan, juga memberikan dorongan atau arahan bagi masyarakat guna mencapai permasalahan yang ada. Mahasiswa/i juga membantu memberikan pemahaman pada masyarakat desa berdasarkan disiplin ilmu yang dimiliki, terutama menyangkut persoalan-persoalan yang berhubungan dengan disiplin ilmu yang diperoleh mahasiswa-mahasiswi. Selain itu juga mengarahkan pola pikir masyarakat untuk dapat berkembang serta keterlibatannya dalam pembangunan.

B.Keadaan Umum Wilayah
Keadaan umum wilayah suco Ma’abat dapat digambarkan sebagai berikut:

a.Keadaan Geografis
1.Letak Wilayah.
Suco Ma’abat merupakan salah satu dari suco yang ada diwilayah District Manatuto yang secara administratif Suco Ma’abat memiliki dua (2) Aldeia yakni Aldeia Ma’abat dan Aldeia Soraha.

2.Batas Wilayah
Wilayah suco Ma’abat memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:
· Wilayah Timur berbatasan dengan wilayah kecamatan Laleia
· Wilayah Barat berbatasan dengan Suco Aiteas
· Wilayah Selatan berbatasan dengan Suco Ailili
· Wilayah Utara berbatasan dengan Selat Wetar

3. Iklim dan Cuaca
Pada umumnya Suco Ma’abat merupakan daerah yang beriklim tropis dan memiliki dua musim tanam. Musim hujan mulai dari bulan Desember sampai dengan bulan Mei, dan musim Kemarau terjadi dari bulan Juni sampai bulan November. Akan tetapi di Suco Ma’abat sering terjadi kemarau yang berkepanjangan.

4.Keadaan Demografi
Jumlah penduduk Suco Ma’abat yang tercatat sekarang adalah 120 KK dengan populasi sebanyak 626 jiwa, dengan rincian menurut jenis kelamin, Laki-laki berjumlah 311 jiwa, sedangkan perempuan sebanyak 315 jiwa.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan selama dua hari mulai dari tanggal 25-27 Maret 2009, peserta ESS dapat memastikan jumlah penduduk dari setiap Aldeia, meskipun belum berfungsinya Administrasi Desa secara baik.

a. Kondisi Kehidupan Masyarakat
1. Aspek Politik

Dilihat dari aspek politik suco Ma’abat terdapat tiga partai yang mendominasi seperti : partai CNRT, PD dan Fretilin. Namun dari hasil observasi para peserta ESS bahwa meskipun terdapat multi partai di suco setempat tidak ada pengaruhnya bagi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa lider-lider partai setempat selalu bekerja sama antara satu dengan yang lain dalam menyukseskan pembangunan di suco tersebut.

2. Aspek Ekonomi
Kehidupan masyarakat suco Ma’abat di lihat dari aspek ekonomi, masyarakat setempat hidupnya sebagai tani dan sebagian kecil masyarakat membuka usaha kecil seperti kios. Adapun masyarakat lain yang membuka usaha industri Batako. Hal ini dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa ada beberapa instansi pemerintah dan instansi non goverment yang memberikan kredit untuk masyarakat setempat, seperti NGO Apetil, Moris Rasik dan SEPI dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

3.Aspek Pendidikan
Pendidikan merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Suco Ma’abat tidak memiliki fasilitas Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, tetapi Suco Ma’abat memiliki Centro Treinamento Joventude yang diorganisir oleh LSM Internasional Norwegian Youth Education Programe (YEP). Semua gedung – gedung sekolah tidak terdapat di wilayah Suco Ma’abat namun berlokasi di Suco Aiteas, Ailili, dan Sau, tetapi masyarakat setempat dapat bersekolah pada ketiga suco tersebut.

4. Aspek Pertanian.
Bidang pertanian adalah sala satu bidang yang sangat memberikan sumbangsih bagi kemajuan pembangunan ekonomi masyarakat suco Ma’abat. Masyarakat suco Ma’abat pada umumnya menganut sistem pertanian ekstensif akan tetapi dapat menjawab kebutuhan ekonomi masyarakat.

5. Aspek Kesehatan
Masyarakat suco Ma’abat belum memiliki kesadaran akan arti pentingnya menjaga kesehatan dalam hal ini sanitasi lingkungan. Masalah kebersihan lingkungan terlihat tidak diperhatikan sama sekali, hal ini tebukti dengan adanya kotoran ternak seperti babi, kambing, dan domba persebaran di semua tempat.

b. Keadaan Sosial Budaya.
1. Adat Istiadat
Masyarakat Suco Ma’abat pada umumnya masih mempertahankan cultural daerah serta kepercayaan terhadap kekuatan alam. Hal ini dapat kita lihat dalam kehidupan masyarakat Suco Ma’abat seperti pernikahan, penyelesaian masalah, dan bahasa sehari-hari masyarakat Suco Ma’abat adalah Galolen dan Tetum. Kepercayaan masyarakat pada umumnya beragama, namun masih ditemukan pula bahwa sebagian masyarakat masih taat dan percaya pada kekuatan alam. Selain itu masyarakat Suco Ma’abat adat istiadat perkawinannya sangat unik, dan itu berlaku untuk semua masyarakat Kabupaten Manatuto pada umumnya. Adat perkawinan yang selama ini masyarakat Suco Ma’abat jalani adalah perkawinan masuk (kaben tama) dimana pihak laki-laki (suami) harus tinggal bersama dengan orang tua sang isteri, dan hingga kini adat perkawinan tersebut sangat masih dominan atau terikat dengan kehidupan mereka.

2. Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk Suco Ma’abat mempunyai mata pencaharian adalah bertani, beternak, Nelayan, serta ada sebagian yang membuka usaha kecil berupa kios dan industri kecil seperti percetakan batako.

c.Potensi Wilayah
Suco Ma’abat mempunyai potensi wilayah yang dapat dikembangkan secara kesinambungan untuk menunjang proses pembangunan Suco Ma’abat. Potensi yang dimaksud adalah bidang pertanian, bidang administrasi desa, ekonomi, dan pendidikan, untuk bidang pertanian merupakan bidang yang sangat potensial untuk diperhatikan sebab roda perekonomian masyarakat Suco Ma’abat bersumber dari pertanian.

d.Sejarah Singkat Berdirinya Suco Ma’abat
Menurut lian nain Suco Ma’abat pada mulanya suco ini bernama Soraha. Namun pada jaman kedudukan pemerintahan Indonesia suco ini di rubah namanya menjadi Ma’abat. Perubahan nama ini karena pada awal kedudukan pemerintah Indonesia di Timor Leste pada saat itu seorang Chefe do Suco yang bernama Edmundo Bianco da Silva bertempat tinggal di Ma’abat sehingga suco ini di rubah namannya menjadi Ma’abat. Menurut tokoh adat ini pada jaman pemerintah colonial Portugis Suco Ma’abat hanya memiliki satu Aldeia yaitu Soraha. Namun pada saat kedudukan pemerintah Indonesia suco ini memiliki dua Aldeia yaitu Aldeia Soraha dan Aldeia Ma’abat. Penduduk dari aldeia Ma’abat kebanyakan adalah penduduk pendatang sedangkan penduduk dari aldeia Soraha kebanyakan penduduk pribumi. Konon ceritanya Suco Ma’abat dan Suco Sau berasal dari satu keluarga dua bersaudara, namun pada saat itu terjadi konflik antara dua bersaudara ini sehingga mereka berpisah dan masing-masing membentuk satu suco tersendiri.
Untuk mengakhiri konflik ini kedua bersaudara tersebut melakukan aksi damai dengan satu perjanjian yang tidak boleh dilanggar yaitu: tidak boleh mengambil atau meminjam api dari kedua belah pihak, tidak boleh saling memukul atau saling melukai antara kedua belah pihak, tidak boleh marah jika salah satu pihak mengambil sesuatu barang dari pihak lain. Kesepakatan ini dilakukan dengan cara menguburkan secara hidup-hidup dua nyawa manusia dari kedua belah pihak. Hingga sekarang perjanjian ini masih berlaku di kedua suco tersebut. Menurut tokoh adat Suco Ma’abat didirikan pada jaman sebelum Portugis oleh tujuh kepala keluarga (Ahi Matan Hitu) pada saat itu dengan seorang liurai yang bertempat tinggal di gunung Soraha. Jadi Soraha merupakan nama sebuah bukit sedangkan Ma’abat adalah nama sebuah kebun kecil (Quintal) yang di dalamnya terdapat tanaman kelapa, pisang, mangga dan lain-lain.

BAB II
PERMASALAHAN DAN PEMECAHANNYA
A. Masalah dan Kebutuhan Masyarakat

Berdasarkan hasil pemantauan peserta Estágio e Serviço Social selama di lokasi banyak menemukan berbagai macam permasalahan yang dihadapi masyarakat Suco Ma’abat diantaranya adalah ;

1. Masalah Bidang Pemerintahan meliputi :
a. Mekanisme tata pemerintahan belum teratur
b.Administrasi desa / suco yang belum berjalan dengan baik
c. Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap pembangunan

2. Masalah bidang pertanian
a.Masih kurangnya pemahaman masyarakat terhadap teknologi pertanian.
b.Pada umumnya masyarakat masih menganut sistem pertanian tradisional
c.Belum adanya kesadaran akan arti pentingnya menjaga kesehatan ternak.
d.Sistem pemasaran dan pengolahan hasil pertanian belum baik.
e.Rendahnya produksi pertanian

3.Masalah bidang Ekonomi
a.Kurang adanya peningkatan kualitas dan kuantitas pendapatan masyarakat untuk mencapai tingkat kebutuhan sehari-harinya.
b.Kurang adanya fasilitas kredit untuk mengembangkan usaha kecil Suco Ma’abat.
c.Kurangnya pemahaman masyarakat tentang arti pentingnya pengembangan bagi bisnis berskala kecil.
d.Kurangnya komoditi harga yang tersedia bagi pengusaha kecil

4.Masalah di bidang kesehatan
a.Kesadaran akan pentingnya sanitasi lingkungan
b.Belum adanya jamban (MCK) pada kantor suco Ma’abat

B.Alternatif pemecahannya
Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas alternatif dan solusi yang di cari untuk memecahkan masalah-masalah tersebut adalah:

1. Di bidang pemerintahan
a. Perlu adanya struktur Desa /suco dan pembenahan administrasi desa menyangkut monografi dan demografi desa, buku agenda surat masuk dan keluar sehingga roda pemerintahan suco bisa berjalan dengan baik
b. Perlu adanya sosialisasi atau pendidikan basis mengenal aturan-aturan yang telah di tetapkan (Civic Education)
c. Perlu adanya keterlibatan pemerintah dan instansi terkait dalam rangka pengembangan dan pembangunan suco.

2.Dibidang Pertanian
a.Perlu meningkatkan kegiatan-kegiatan penyuluhan yang disertai dengan proyek percontohan (Kebun Percontohan)
b.Perlu memberikan pelatihan teknik-teknik pertanian modern kepada petani
c.Perlu adanya pendekatan antara petugas pertanian dengan para petani
d.Perlu adanya pemahaman masyarakat tentang arti pentingnya suatu sistem pertanian yang baik dan benar sehingga dapat memberikan hasil yang memuaskan.

3.Dibidang Ekonomi
aPerlu adanya penyuluhan tentang manajemen usaha skala kecil dan pemasaran produk-produk lokal.
b.Perlu adanya penambahan fasilitas produk masyarakat bagi usaha skala kecil
c.Perlu adanya penigkatan sumber daya manusia tentang arti pentingnya manajemen bagi bisnis kecil.
d.Perlu adanya transparansi harga komoditi bagi pengusaha kecil
e.Perlu adanya pelatihan tentang usaha skala kecil

5. Dibidang Kesehatan
a. Perlu adanya penyadaran bagi masyarakat tentang arti pentingnya sanitasi lingkungan
b. Perlu adanya penyuluhan kepada masyarakat mengenai pemeliharaan ternak yang baik agar tidak mengotori tempat disembarangan.
c. Perlu adanya fasilitas air bersih dan MCK umum di suco

BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN ESTÁGIO E SERVIÇO SOCIAL

A. Program-Program Estágio e Serviço Social
Berdasarkan hasil survey maka semua informasi dikumpulkan dan dirumuskan dalam bentuk program kerja yang dilaksanakan oleh peserta Estágio E Serviço Social. Program-program kerja tersebut dapat dilihat pada matriks program kerja, matriks rencana pelaksanaan program kerja serta matriks pelaksanaan program kerja terlampir. Uraian program kerja akan di uraikan seperti berikut :
Program sosialisasi activitas ESS
Program sanitasi suco dan air bersih di Suco Ma’abat
Program pembenahan administrasi suco
Program tranformasi dan formasi teknik pertanian modern
Program memperkokoh iman umat Kristiani
Program mempererat hubungan ESS dengan aparat pemerintah, NGO dan masyarakat
Program tambahan dan insedentil.
Dari ke tujuh program diatas maka untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada matriks program kerja terlampir.

B. Pelaksanaan program kerja ESS
Dalam melaksanakan Estágio E Serviço Social (ESS) periode VI tahun akademik 2009/2010, selama dua bulan, Pelaksanaan program-program kerja Estagío E Serviço Social (ESS) pada umumnya tidak terlepas dari dukungan dan partisipasi masyarakat juga instansi pemerintahan Sub – Distrito dan Distrito.
Program-program yang dilakukan adalah memberikan training tentang pertanian organik, ikut serta dalam pembenahan administrasi desa, rehabilitasi sanitasi suco, mempererat hubungan dengan aparat pemerintah, NGO lokal dan bertisipasipasi tanam padi dengan masyarakat dengan menggunakan sistem ICM (Integrated Control Manajement), juga partisipasi kegiatan kampaye global untuk pendidikan sedunia serta melakukan kegiatan baksos di lingkungan Gereja, Mercado dan di sekitar lingkungan suco Ma’abat. Program-program dimana telah ditetapkan juga dapat dukungan dan participasi dari masyarakat, pemuda, dan conselho do suco berupa material dan non material. Pelaksanaan kegiatan ESS kelompok I, juga mendapat dukungan dana untuk mengatasi masalah-masalah yang di hadapi oleh suco tersebut. Dengan demikian ESS kelompok I berusaha keras mendapatkan dana sebesar U$. 1,479,9 untuk merespon masalah tersebut. Dana-dana yang didapatkan berasal dari
1.Secretario do Estado Eletricidade Agua e Urbanização, Direção Nacional SAS berjumlah U$. 1024.40
2.Dirasaun Nasional Obras Publica U$. 60.00
3.NGO CCF (Oca Moris Foun) berjumlah U$. 365.50.
4.Suco Ma’abat U$. 45.00
5.Peserta ESS kelompok I U$. 15.00
BAB IV
FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT PELAKSANAAN ESTÁGIO E SERVIÇO SOCIAL

A.Faktor Pendukung dan Penghambat
a. Faktor Pendukung
Pelaksanaan Estágio e Serviço Social (ESS) selama dua bulan di Suco Ma’abat, adapun faktor pendukung antara lain ;
1. Adanya bimbingan dari Comisaun Organizadora dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).
2.Bantuan dukungan dari Administração Sub Distrito dan Distrito, Pemuda dan Masyarakat

b.Faktor Penghambat.
Pelaksanaan kegiatan Estágio e Serviço Social (ESS) Universidade Nacional Timor Lorosa’e di suco Ma’abat terdapat faktor penghambat pelaksanaan kegiatan antara lain ;
1. Pemahaman masyarakat akan kegiatan Estagío Serviço Social masih minim.
2. Kurangnya bantuan material sebagai faktor pendukung dalam pelaksanaan kegiatan Estágio e Serviço Social

B.Cara Mengatasi Hambatan
Berdasarkan faktor pengahambat di atas maka upaya untuk mengatasinya adalah :
1. Menjelaskan kehadiran peserta ESS dan tujuan serta visi dan misi dari pada Estágio e Serviço Social kepada masyarakat.
2. Mengadakan pertemuan dengan administração dan jajarannya
3.Mengadakan pertemuan dengan Chefe do Suco dan Chefe de Aldeia untuk menjelaskan kehadiran peserta ESS serta program kegiatan yang akan dilaksanakan.
4. Participasi kaum muda dalam pelaksanaan kegiatan Estágio e Serviço Social.
5.Selalu mengadakan evaluasi untuk membahas setiap kegiatan yang dilaksanakan.

C. Kemungkinan Yang Dapat Dikembangkan Dari Potensi Suco Atau Sub Distrito
Sebagaimana diketahui bersama bahwa daerah-daerah yang ada diseluruh wilayah Timor Lorosa’e semuanya berada pada dataran tinggi dan memiliki flora dan fauna yang beraneka macam dan sangat potensial untuk dikembangkan.
Sesuai dengan hasil pemantauan peserta ESS di lapangan khususnya wilayah suco Ma’abat, Sub Distrito Manatuto, Distrito Manatuto, potensi-potensi alam dapat dikembangkan adalah dibidang pertanian, peternakan dan industri kecil dimana dapat terlihat bahwa kehidupan masyarakat suco Ma’abat menggantungkan harapan hidup dikedua bidang ini, selain bidang-bidang pendukung lain. Dibidang pertanian dan Peternakan yang dimaksud adalah tanaman hortikultura dan tanaman industri (palawija), peternakan seperti kerbau, sapi, kambing, domba, dan unggas. Potensi-potensi tersebut sebagai kekayaan alam di Suco Ma’abat untuk dikembang lebih baik supaya memberikan keuntungan bagi masyarakat.

BAB V
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari latar belakang sampai penutup penulis simpulkan tercapainya suatu tujuan yang diharapkan karena semangat kerja keras serta dedikasi yang tinggi dalam pelaksanaannya.Begitu juga dengan program Estágio e Serviço Social yang dirancang oleh Universitas untuk Mahasiswa tingkat akhir program S-1.
Ada beberapa kesimpulan yang ingin kami uraikan yaitu :

1. Program ESS merupakan salah satu program kegiatan intrakurikuler yang harus mahasiswa tersebut menghabiskan teorinya dibangku kuliah.
2.Program ESS merupakan suatu pengintegrasian yang lebih difokuskan pada pendidikan, penyelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan Tridarma perguruan tinggi.
3.Adanya program Estágio E Serviço Social dapat membatu Mahasiswa/i dalam mengembangkan kapasitasnya untuk dapat diterapkan di lingkungan masyarakat dan juga kegiatan ini dapat merubah pikiran Mahasiswa/i bagaimana hidup di lingkungan masyarakat.

B. Saran
Ada beberapa saran penulis sarankan bahwa :
1.Diharapkan kepada Pemerintah pusat supaya dapat memperhatikan pembangunan di basis pedesaan karena pembangunan pedesaan merupakan faktor-faktor penentu utama dalam proses pembangunan nasional terutama proses pengembangan di bidang pertanian untuk menjawab kebutuhan dari masyarakat setempat.
2.Para Pemerintahan lokal figure utama pembangunan dengan memberikan ide serta mempunyai semangat kerja yang tinggi guna menjawab situasi dan kondisi masyarakat pedesaan yang saat ini sangat membutuhkan uluran tangan dari semua pihak.
3.Untuk mensukseskan pembangunan pedesaan konstribusi serta dukungan dari masyarakat agar pembangunan yang diharapkan dapat dirasakan oleh semua pihak.

No comments: